Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid di RS SMC Periode 2017
DOI:
https://doi.org/10.25026/jsk.v2i2.126Keywords:
Demam Tifoid, Analisis Efektvitas Biaya, Ampisilin, AntibiotikAbstract
Penyakit demam tifoid merupakan infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam lebih dari satu minggu yang mengakibatkan gangguan pencernaan dan dapat menurunkan tingkat kesadaran. Pengobatan demam tifoid dapat dilakukan dengan cara pemberian terapi antibiotik. Penggunaan antibiotik dengan biaya yang relatif tinggi belum tentu bisa menjamin efektivitas kesembuhan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas biaya antibiotik dari pasien demam tifoid di Rumah Sakit Samarinda Medika Citra periode 2017. Metode pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarakan catatan rekam medis pasien demam tifoid yang di rawat inap periode Januari hingga Desember 2017. Data efektivitas biaya pengobatan antibiotik dianalisis dengan nilai ACER. Hasil penelitian dari 79 pasien menunjukkan bahwa penderita demam tifoid terbanyak diderita oleh perempuan dengan persentase 53,16 % dan berusia usia 6 hingga 11 tahun dan 26 hingga 35 tahun dengan persentase yang sama sebanyak 17,72 % dengan lama rawat inap 4 hari dan obat antibiotik yang memiliki efektivitas lebih baik adalah ampisilin yang dapat menurunkan suhu demam sebesar 36,70 ºC dengan biaya Rp. 46,695.77 selama 4,3 hari dengan nilai ACER yaitu Rp. 398,543.00.
References
World Health Organization (WHO). 2012. Managing for Rational Medicine Use. Geneva,
World Health Organization (WHO). 2014, Focus of Tifoid Fever, Weekly EWARN weekly summary, 1-2.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
Hadi, U. 2009. Resistensi Antibiotik, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,Edisi V, Jilid III, Interna Publishing: Jakarta.
Trisna, Y. 2008. Aplikasi Farmakoekonomi. Materi Perkembangan Farmasi Nasional. Ikatan Apoteker Indonesia. Jakarta.
Budiharto, Martuti. Koesan, Sumarto, 2008, Peranan Farmako-Ekonomi Dalam Sistem Pelayanan Kesehatan Dl Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Vol 4 337-340.
Deddy, S.P. 2011. Monografi Seftriakson (Sefalosporin Generasi ketiga).Riau: FK UNRI
Istiantoro, Y.H., dan Gan, V.H.S., 2005, Penisilin, Sefalosporin dan Antibiotik Betalaktam Lainnya, dalam Ganiswarna, S.G., Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, 622 – 625, Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Raini, Mariana. 2016. Antibiotik Golongan Fluorokuinolon: Manfaat dan Kerugian. Media Litbangkes, Vol. 26 No. 3,
Depkes RI, 2006. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.
Haluang, O., Tjitrosantoso, H., Kojong, N.S., 2015. Analisis Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Penderita Demam Tifoid Anak di Instalasi Rawat Inap RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Periode Januari 2013 - Juni 2014. PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT. Vol. 4 No. 3. 117



